Budaya Konsumerisme Mahasiswa

Budaya Konsumerisme Mahasiswa. Kita sekarang hidup di tengah masyarakat konsumer macam itu. Setiap bentuk interaksi sosial ditentukan oleh konsumsi. Identitas pun ditentukan oleh konsumsi. Mahasiswa dianggap keren apabila sesudah pulang kuliah nongkrong di kafe mahal, dan dianggap biasa saja apabila nongkrong di warkop. Dalam berpakaian dianggap kere apabila memakai pakaian branded yang terkenal, namun jika memakai pakaian non-branded atau branded yang tidak terkenal, maka dianggap biasa saja. Semuanya didasarkan pada konsumsi komoditas yang dianggap high level.

Gaya hidup seperti itu disebabkan oleh pemasaran atau iklan. Iklan menjadi tak terpisahkan dari gaya hidup dan menjadi perumus dari gaya hidup itu sendiri. Iklan mengkonstruksikan masyarakat konsumer menjadi kelompok gaya hidup. Ruang sosial yang dibangun oleh masyarakat konsumeristik diisi kombinasi antara media dan citra.

Ruang konsumsi dicirikan oleh pengombinasian elemen-elemen gaya hidup dengan cara yang baru, yang di dalamnya disatukan berbagai kegiatan waktu senggang, kesenangan, permainan, hiburan dan konsumsi. Komoditas yang dibentuk oleh iklan ini pada dasarnya bersifat ilusif.

Iklan–yang merupakan sebentuk tontonan yang mengiringi sebuah produk–menawarkan citra-citra sebagai acuan nilai dan moral. Padahal citra-citra tersebut adalah rangkaian ilusi yang disuntikan pada komoditi dalam rangka mengendalikan konsumer.

Dengan demikian, konsumer menjadi konsumer ilusi, yaitu konsumer membeli ilusi ketimbang barang, yang mengonsumsi relasi sosial (status, prestise) ketimbang fungsi produk.

Dengan kondisi sosio-kultural semacam itu, masyarakat seolah-olah terjebak dalam lautan tanda yang terus menerus memaksakan konsumsi. Yang menjadi orientasi adalah apa yang dicitrakan dan diiklankan, nilai prestise lebih utama daripada nilai guna, lebih memilih produk dengan harga mahal daripada yang murah meskipun kualitasnya sama, dan lain sebagainya.

Demikianlah realitas yang kita hidupi saat ini, yang dihasrati adalah yang dangkal daripada yang dalam.

Lalu bagaimana dengan nasib mahasiswa? Apakah mahasiswa juga termasuk masyarakat konsumer yang demikian? Lantas kalau begitu mahasiswa tidak akan melakukan perubahan apapun? Menjadi konsumer ilusi dan lupa akan fungsinya sebagai agen perubahan?

Tak bisa dipungkiri bahwa mahasiswa menjadi harapan di tengah budaya konsumerisme semacam itu. Namun tak bisa kita tolak bahwa mahasiswa masihlah terinklusi dalam struktur yang demikian.

Ironisnya jika kita melihat perilaku dari mahasiswa saat ini, mereka sangat terpengaruh oleh budaya konsumerisme dan terjebak di dalamnya. Saat ini kebanyakan mahasiswa lebih suka untuk menonton film ke bioskop daripada diskusi dan penelitian. Mereka juga lebih suka membeli pakaian baru daripada membeli buku baru untuk dibaca. Mereka lebih suka membicarakan artis Korea yang putus pacaran daripada membicarakan apa relasi ekonomi dan politik yang ada di Indonesia.

Perubahan sosial yang dilakukan oleh mahasiswa pun seolah-olah tidak mungkin. Karena tekanan idealisme mereka terlalu kecil melawan tekanan konsumerisme yang begitu masif dan lebih menggoda. Paling banter perubahan dan gerakan yang dilakukan mahasiswa bersifat populer. Dalam artian gerakan mereka hanya mengikuti tren dan eksistensi belaka, bukan gerakan yang kritis.

Namun, itu bukan berarti semua mahasiswa yang ada di dunia ini terjebak dalam jeratan konsumerisme, ada juga yang bersikap kritis. Filsafat merupakan salah satu senjata kritisisme dari mahasiswa. Dengan filsafat mahasiswa bisa mengetahui apa sebenarnya yang terjadi di balik budaya konsumerisme ini. Filsafat bisa memberikan analisa dan refleksi terhadap gejala tersebut.