Wacana Full Day School Demi Kemajuan Pendidikan Di Indonesia

Sejak pertama kali kemunculan wacana Full Day School dari Menteri Pendidikan, banyak pro dan kontra muncul didalam masyarkat. Guru, orang tua, dan anak sendiri pun mempunyai tanggapan yang berbeda-beda. Wacana Full Day School memang sedang menjadi topik yang hangat dibicarakan.

Apa itu Full Day School?

Menterei pendidikan Muhadjir Effendy telah mengungkapkan bahwa Full Day School adalah konsep pendidikan dimana anak diajarkan pendidikan karakter dan pengetahuan umum di sekolah sejak pagi hingga jam 5 sore. Full Day School ini ditujukan bagi anak-anak sekolah jenjang SMP dan SD.

Tujuan Full Day School itu apa?

Setiap gagasan pendidikan tentu tujuannya demi kebaikan bangsa. Agar pendidikan di Indonesia semakin maju dan mampu bersaing secara global. Tujuan Full Day School sebenarnya adalah agar anak mendapatkan pendidikan yang optimal berupa tambahan jam belajar.

Yang dimaksud jam belajar tambahan ini bukanlah menambah jam mata pelajaran tertentu yang sudah ada. Tapi, menambah jam ekstrakurikuler. Seperti, kegiatan latihan Pramuka, OSIS, Paskibra, Club Science, dan ektrakurikuler yang menarik lainnya termasuk juga seni teater, musik, menari , grup vokal, atau marching band.

Selain itu, anak juga akan mengisi hari-harinya dengan hal yang positif. Sekarang ini, fenomena kedua orang tua bekerja sudah tidak lagi asing bagi masyarakat. Hal ini agar anak tidak keluyuran atau melakukan kegiatan yang kurang bermanfaat seperti nongkrong di mall, pinggir jalan, atau kegiatan yang kurang produktif lainnya. Full Day School inilah yang akan mencegah mereka melakukan kegiatan yang tidak membuat mereka lebih cerdas.

Bagi para guru, Full Day School ini memberi keuntungan. Yaitu, persyaratan mengajar selama 24 jam per minggu sebagai syarat untuk lolos sertifikasi para guru bisa terpenuhi. Sedangkan untuk para orang tua, mereka tidak lagi terlalu khawatir karena anak-anaknya sedang berada di tempat yang baik untuk belajar yang diawasi oleh guru-gurunya.

Di Negara maju seperti Amerika, konsep ini sudah lama diterapkan. Mereka sekolah dalam waktu yang panjang dari pagi hingga sore. Dan tidak ada yang merasa keberatan, karena konsep Full Day School sudah lama mereka terapkan. Berkaca dari keberhasilan negara maju inilah, Menteri Pendidikan Indonesia bapak Prof. Muhadjir Effendy akhirnya memberikan wacana akan diadakannya Full Day School di Indonesia.

Dengan perbandingan 80 persen belajar pendidikan karakter dan 20 persen pengetahuan umum bagi siswa-siswi jenjang Sekolah Dasar. Sedangkan, bagi para pelajar Sekolah Menengah Pertama sebanyak 60 persen pendidikan karakter dan 40 persen pengetahuna umum. Agar generasi Indonesia nantinya tidak hanya cerdas tapi juga berkarakter.

Konsep Full Day School memang belum bisa diterapkan di indonesia. Mengingat perbedaan fasilitas dan kualitas pengajar di seluruh wilaya berbeda-beda. Di kota besar seperti Jakarta, hal ini tidaklah sulit karena mereka memang selama ini sudah mengadakan banyak kegiatan diluar jam belajar di sekolah. Seperti kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti oleh seluruh siswanya. Tapi, untuk sekolah-sekolah di pedesaan dan daerah terpencil, hal ini akan memiliki banyak kendala seperti fasilitas tidak memadai, kurangnya guru, dan kurangnya minat belajar anak-anak di pedesaan.

Karena itu, sebelum diterapkannya wacana Full Day School dalam dunia pendidikan. Akan lebih baik kalau mendahulukan pemerataan fasilitas pendidikan bagi seluruh sekolah di Indonesia. Jika, semua sekolah dalam fasilitas yang sepadan maka tidak akan lagi kendala berarti tentang wacana Full Day School ini.